Here is about DSW Journey

Children of Kotawaringin Lama

Senyum anak-anak di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Menjelajah tempat baru, mengenal budaya yang beragam selalu menjadi passion saya. Saya mendapatkan banyak kesempatan saat saya di berada di bangku kuliah dimana saya bekerja paruh waktu, di sela perkuliahan saya, menjadi pemandu wisata. Waktu itu saya sering mengambil kesempatan sebagai French-speaking tour guide untuk dua kantor tour operator yang ternama di Indonesia. Sekali-kali sebagai English-speaking tour guide juga. Jelajah tugas saya waktu itu lebih banyak di Jawa Timur, termasuk Madura. Beberapa kali menyeberang hingga Jawa Tengah dan Bali.

Nah, untuk fotografi, saya banyak dikenalkan oleh seorang kawan, namanya Ludfy Baria. Beliau sudah tiada. Saat itu saya banyak membantu beliau sebagai menjadi jurnalis lepas di Majalah Sarinah. DI sinilah Mbak Ludfy, demikian saya biasa memanggil beliau, banyak mengajari saya dan bahkan meminjamkan kameranya untuk saya bawa kemana-mana meliput dan juga saat saya mengikuti Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada 1993-1994. Semakin mengutak-atik kamera, waktu itu masih memakai film negatif dan tidak digital seperti sekarang, saya semakin mencintai fotografi. Meskipun hasil foto saya kadang kabur, hangus, atau malah tidak terjepret sama sekali gara-gara kaitan filmnya tidak pas. Kalau sudah begini, menyesalnya sampai terbawa mimpi… 😀

Mama Tua sedang menganyam, Murusobe

Nenek yang saya temui sedang menganyam keranjang saat saya menjelajah air terjun Murusobe, Kabupaten Sikka, Flores.

Pengaruh terbesar untuk saya dalam semakin menyelami dan mencintai pengalaman blusukan menjelajah kekayaan alam dan budaya Indonesia, hingga kemudian menjelajah negara-negara jiran juga, adalah saat saya bekerja di Swisscontact WISATA, sebuah organisasi nirlaba yang membantu Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dalam pengembangan pariwisata di empat destinasi. Saya pertama kami terlibat selama lima tahun di Flores, kemudian tiga tahun di Kalimantan Tengah, khususnya pengembangan di Destinasi Tanjung Puting dan sekitarnya.

Tugas saya di Flores saat itu adalah di pemasaran dimana salah satu tugasnya adalah menjelajah dan mendata daya tarik wisata, baik alam maupun budaya, di empat kabupaten: Flores TImur, Sikka, Ende, dan Nagekeo. Sekali-kali saya ikut juga menjelajah di empat kabupaten yang lain, yaitu: Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat. Selain itu saya beberapa kali juga menemani para jurnalis untuk memperkenalkan potensi wisata di Flores dari timur ke barat. Dari sinilah saya banyak sekali belajar memahami tantangan dan dinamika dalam pengembangan sebuah destinasi wisata.

Terlebih saat saya bertugas di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dimana saya saat itu menjadi Destination Office Manager. Tugas yang lebih kompleks daripada saat saya berada di Flores. Apalagi situasi di Kalimantan Tengah, khususnya wilayah tugas saya yang meliputi tiga kabupaten: Kotawaringin Barat, Lamandau, dan Seruyan, tidak lebih mudah daripada di Flores. Situasi pariwisata, alam, serta para pemangku kepentingan terkait ternyata memberikan tantangan tersendiri. Saya banyak belajar dari kedua tempat tugas saya tersebut. Keduanya memberikan kenangan yang dalam serta memberikan keterikatan emosional yang dalam, terutama dengan para pelaku pariwisata dan juga masyarakat dimana saya bertugas. Saya merasa sekarang mempunyai rumah dan saudara dimana-mana. Saya beberapa kali pernah terharu saat beberapa orang, baik di Flores maupun di Kalimantan, berkata seperti ini misalnya, “Sudah, Mas. Ayo cepat pulang kembali ke Flores.” Ah, ternyata saudara itu memang tidak harus sedarah…

Kalstar Inflight Mags

Salah satu tulisan saya di KALSTAR Inflight Magazine.

Saat ini, saya lebih banyak sibuk dengan usaha sendiri di Bali. Ada beberapa kegiatan yang saya kerjakan. Selain masih sibuk dengan jewellery saya di DSW Jewellery Bali yang saya rintis sejak 2006 dimana saya mendisain dan juga mengerjakan disain klien, saya juga sedang sibuk merintis sebuah tour organizer yang harapannya akan banyak mengangkat tidak saja keindahan alam, namun juga keragaman budaya di Nusantara melalui JalaNusantara Journey . Kegiatan saya yang lain adalah menulis di beberapa inflight magazine, salah satunya yang paling sering adalah di Kalstar Inflight Magazine (ini berkat Mas Teguh Sudarisman yang kala itu meminta saya menulis tentang buah mentawa), juga merintis menjadi konsultan di wilayah sustainable tourism. Saya masih ingin terus menjelajah. Karena di sinilah saya selalu merasa bahwa “semakin saya tahu, ternyata semakin banyak hal yang saya tidak tahu“.

Advertisements